Sabtu, 20 Oktober 2012

Kejora (part 2)



IRAMA HUJAN


“aku jemput kamu sekarang”
Khayla menggeleng pada ponsel yang masih menempel di telinganya, “aku nggak mau ngerepotin kamu. Aku pulang naik angkot aja”, ujarnya pada Rifki di telepon.
“sebentar lagi hujan, lebih baik aku yang jemput kamu”, jawab Rifki di ujung telepon.
Khayla mendongakkan kepalanya ke langit. Langit memang sudah semakin gelap. Khayla menjadi khawatir jika hujan turun dengan deras.
“aku tunggu”, katanya menyetujui tawaran Rifki.
Setelah menyudahi panggilan, Khayla mengambil headphone dari dalam tasnya. Memasangnya pada handphone miliknya. Khayla menggeser-geser layar sentuh ponselnya lalu menyalakan sebuah lagu favoritnya.
Zaman memang sudah modern. Dan Khayla bukanlah seseorang yang hidup pada tahun ‘60an. Umurnya saja masih enam belas tahun. Namun lagu yang sedang didengarkannya bukanlah lagu yang sedang ngetop di zaman sekarang. Khayla tidak peduli apa yang dikatakan orang jika mengatakan bahwa selera musiknya sangatlah kuno. Namun Khayla lebih menikmati apa yang dia sukai.

Oh… manaka mentari tua
Lelah berpijar

Suara merdu milik Chrisye terdengar jelas di telinga Khayla.

Oh… manaka mentari tua
Lelah berpijar

Terdengar kembali alunan lagu mengalun, tapi ini aneh. Khayla sangat mengenali suara pemilik lagu ini tapi yang didengar Khayla justru bukan berasal dari musik yang terpasang di headphone miliknya. Suara yang tidak kalah merdu dari penyanyi aslinya.
Dengan cepat, Khayla menoleh mencari arah datangnya suara tersebut. Tidak ada orang lain selain seorang cowok mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Dan terlihat cocok dengan celana jeans selutut berwarna hitam. Tapi sepertinya pria itu tidak sedang bernyanyi. Dia sedang menikmati menonton langit yang menghitam. Bibirnya tipis namun memberi kesan manis ketika dia tersenyum ditambah dengan lesung pipi di kedua pipinya. Wajah putih bersihnya kelihatan bersinar-sinar dihiasi senyumnya.
Menyaksikan pria itu yang begitu menikmati pemandangan langit, membuat Khayla kembali mendongakkan wajahnya ke langit. Mengamati awan-awan hitam bergerak menutupi matahari. Menjadikan langit gelap tanpa sinarnya. Hingga akhirnya titik-titik air jatuh mengenai wajah Khayla. Tapi sepertinya ada sesuatu yang lain. Sepasang mata yang tanpa disadari mengamati apa yang sedang dilakukan Khayla. Mengamati setiap celah wajahnya. Mengamati sebuah keindahan yang selama ini ia cari.
“hujan”, suara seseorang mengusik perhatian Khayla.
Ketika menoleh, Khayla mendapati pria berkemeja yang sejak tadi berdiri di sampingnya tengah memandangnya. Khayla sedikit terkejut dan mengerutkan dahinya.
“apa aku mengatakan sesuatu?”, ujar pria itu dengan sedikit gugup yang kentara. Tapi kemudian pria itu menunjukkan senyuman manisnya pada Khayla. Entah mengapa Khayla yang biasanya takut pada orang asing, menjadi lebih berani pada pria itu. Khayla tidak merasa terusik sedikitpun pada pria itu.
Khayla pun membalas senyumnya dengan senyum paling manis yang dimilikinya. Khayla menggeleng pelan padanya.
“kau suka hujan?”, tanya pria itu pada Khayla.
Wajah Khayla sedikit berkerut, “sedikit”, jawab Khayla, “aku lebih suka langit”
Mendengar jawaban Khayla, pria itu tertawa pelan. Khayla tidak mengerti kenapa pria itu mentertawakan jawabannya. Yah, mungkin terdengar sedikit lucu atau mungkin terdengar aneh. Biarkan saja, Khayla tidak terlalu memikirkannya. Dan rintik-rintik hujan semakin banyak terjatuh dari langit. Mereka menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tidak ada tempat yang bisa dijadikan tempat berteduh kecuali sebuah pohon besar yang berdiri tegak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Pria itu memberi kode pada Khayla untuk bersama-sama menghampiri pohon besar itu untuk berlindung dari serbuan hujan di bawah dahan-dahannya. Mereka berdiri bersampingan di bawah pohon besar tersebut. Dan pada satu ketika, mereka saling menoleh dan bertatapan cukup lama. Terdiam dalam irama hujan. Kedua bola mata yang saling bertemu.

Dan kau lilin-lilin kecil…

Irama musik yang sempat terhenti kini kembali mengalun.
Dan pada satu detik yang tidak direncanakan, mereka tertawa bersama. Menikmati irama hujan bersama seseorang yang baru mereka temui.
Tidak lebih dari lima menit. Menikmati hujan bersama seseorang yang tidak dikenalnya. Ketika sebuah payung menaungi tubuhnya, maka selesailah irama hujan yang Khayla nikmati. Rifki sudah menjemputnya.
Wajah Rifki terlihat habis tergesa-gesa. Tetapi ketika menatap Khayla, seukir senyum terbentuk di wajahnya.
“maaf karena sudah menunggu”, ujarnya pada Khayla. Nada suaranya terdengar terputus-putus bersamaan dengan nafasnya. Tanpa berbicara banyak lagi, dia menyampirkan jaket yang dipegangnya ke tubuh Khayla.
Rifki sudah datang, Khayla harus pergi. Khayla melirik sekilas pada pria berkemeja tersebut. Dia tidak lagi sedang tersenyum, hanya masih terus menatap langit. Matanya berkedip-kedip beberapa kali, lebih banyak dari seharusnya. Haruskah Khayla mengucapkan selamat tinggal?
Rifki sudah menunggunya untuk pergi. Khayla bergerak melangkahkan kakinya meninggalkan pohon besar itu. Khayla tidak ingin mengucapkan selamat tinggal. Khayla juga tidak ingin menoleh kembali.
Khayla hanya memperhatikan langkah kakinya. Dia tidak menyangka berada di bawah sebuah payung bersama dengan Rifki. Beberapa tetes air hujan menyiprat kakinya. Khayla bersusah payah agar tidak terlalu mendekat dengan Rifki tanpa mempedulikan bahunya yang terkena tetes hujan.
Dan Khayla hanya bisa menegang ketika Rifki menarik lembut bahunya untuk semakin mendekat dengan Rifki. Khayla menoleh pada Rifki yang entah mengapa seolah sedang berusaha mengalihkan pandangannya ke arah yang berlawanan.

---------------------------------------

Begitu masuk ke dalam mobil, Khayla segera membuka jaket yang Rifki kenakan padanya. Menyampirkannya di jok belakang mobil. Khayla masih sibuk merapihkan bajunya yang sedikit kebasahan. Sementara Rifki tidak juga menyalakan mesin mobilnya. Dia duduk dengan tenang di balik setir mobil.
“apa aku sudah merepotkan?”, tanya Khayla berhati-hati. Rifki dengan refleks menoleh pada Khayla dan tersenyum sembari menggeleng.
“terimakasih”
Khayla mengerutkan dahinya pada Rifki. Jika harus mengucapkan terimakasih, bukankah ia sendiri yang harus mengatakannya kepada Rifki karena sudah mau menjemputnya. Tapi kenapa Rifki yang mengucapkan terimakasih padanya?
“terimakasih karena kamu sudah mau menerima aku. Terimakasih karena kamu sudah mau menerima cintaku. Dan terimakasih karena kamu sudah ada untukku”
Mendengar alasan Rifki mengucapkan terimakasihnya, hanya membuat Khayla tidak mampu berkata-kata. Sebagai jawaban, Khayla hanya memberikan senyumannya pada Rifki. Dengan perlahan Khayla menggeleng pada Rifki.
“aku yang seharusnya berterimakasih karena kamu sudah mau mencintaiku dengan tulus”, itulah yang seharusnya dikatakan oleh Khayla pada Rifki. Khayla sangat mengetahui bagaimana perasaan Rifki padanya. Pancaran mata Rifki padanya tidak bisa ditutupi, Khayla bisa melihatnya dengan sangat jelas. Pancaran mata yang tidak pernah didapatkan Khayla sebelumnya dari pria manapun. Dan Khayla sangat menyayangi Rifki, mungkin juga mencintainya. Apalah arti sebenarnya dari cinta itu sendiri? Khayla merasakan kebagiaan setiap kali dia bersama dengan Rifki. Dan itulah cinta yang dirasakan Khayla saat ini. Tentu saja selain cinta anehnya pada sebuah akun email beralamatkan Kejora_Bintang@yahoo.com.
Terkadang Khayla memang harus bisa berpikir dengan jernih. Hidupnya bukan hanya di dunia maya. Ada kehidupan nyata yang juga harus dijalaninya. Dan kehidupan nyatanya sekarang adalah bersama Rifki.

“cinta memang bukanlah sebuah kata-kata belaka. Namun untuk menyampaikannya padamu, aku membutuhkan beberapa kata. Seperti… aku mencintaimu”

Kata-kata itulah yang dikatakan Rifki pada Khayla. Dan membuat Khayla kehabisan kata-kata untuk membalas perkataannya. Terlebih karena Khayla tidak pernah mendengar kata-kata seperti itu sebelumnya.  

--------------------------------------

Hujan
From    : Kejora_Bintang@yahoo.com
     To        : Purnama@yahoo.com

Tidakkah kau lihat rintik air yang jatuh dari langit?
Aku melihatnya.
Dan entah mengapa, aku berharap kau dapat melihat rintik hujan yang sama.
Atau jika tidak, tataplah hamparan langit yang sedang kelabu.
Jika kau bisa menyibaknya, maka cahaya yang terang akan segera kau temukan.
Atau jika tidak, temukanlah cahaya kecil yang bersembunyi di kedalaman hatimu.

Apakah aku mencintaimu?



Part 1                 Part 3

Kejora (part 1)



RINDU


Rindu Purnama
From     : Kejora_Bintang@yahoo.com
To         : Purnama@yahoo.com

Apa kabar Purnama malam ini?
Masihkah ia berselimut awan hitam di langit?
Ataukah Ia terlalu malu untuk menunjukkan sinarnya sehingga Ia selalu bersembunyi di balik awan?
Tahukah kau apa arti dari kata rindu, Purnama?
Kenapa malam sunyi ini aku begitu merindukan Purnama? Purnama yang tidak kunjung datang.
Lalu apa sebenarnya makna dari kata rindu?
Rinduku yang tidak kunjung terbalas, rindu kepada sosok Purnama di langit yang hitam pekat. Rindu akan sinarnya yang mampu membuat iri bintang-bintang di langit.

Apakah aku mencintaimu?

--------------------------------

Sesosok tubuh mungil menggeliat di balik selimut berwarna merah muda. Dan akhirnya tubuh mungil itu keluar dari balik persembunyiannya. Mata kecilnya berkedip-kedip untuk membiasakan matanya kembali. Melihat seisi kamarnya. Jarum jam dinding di kamarnya mengarah pada angka empat. Seekor nyamuk hinggap di lengannya.
“huuufffffpppphhhh”, mulut mungilnya mengerucut berusaha untuk mengusir nyamuk kecil yang hinggap di lengannya.
Gordin kamarnya menari-nari lembut bersama angin. Sejuk. Udara dari luar kamar, masuk melalui celah jendela yang tidak tertutup rapat. Kaki-kaki mungil milik gadis kecil itu melangkah turun dari ranjang. Langkah kakinya terdengar pelan dan bergetar. Tangan mungilnya menggenggam erat pinggir baju tidur yang dikenakannya.
Sentuhan lembut angin yang berhembus dari celah jendela kamarnya menyapu lehernya sehingga membuatnya sedikit tergelitik. Kini tangan mungil itu meraih jendela yang terbuka namun sentuhan angin dari luar kamar, membuatnya tergoda untuk kembali bermain-main dengan angin. Gadis kecil itu melupakan tujuan awalnya untuk mengunci jendela kamar, dia membuka lebar-lebar jendela kamarnya dengan kaki berjinjit. Menutup matanya rapat-rapat dan dengan perlahan melebarkan bibir tipisnya. Angin yang sejuk mencoba menggelitik wajah dan rambutnya.
Merasa cukup puas menikmati hembusan angin, gadis kecil itu membuka kembali kedua kelopak matanya. Matanya kini membulat, nafasnya tertahan. Seekor kunang-kunang tengah berputar-putar di hadapan matanya. Mungkin kunang-kunang tersebut sedang tersesat dan tidak sengaja menghampiri jendela kamarnya. Gadis itu mulai menunjukkan gigi-gigi putihnya. Menikmati ketersesatan kunang-kunang tersebut. Hingga akhirnya kunang-kunang itu terbang meninggalkannya. Namun mata gadis kecil itu masih terus memperhatikan kepergian kunang-kunang tersesat tersebut. Kunang-kunang itu terbang menjauhinya. Terbang ke atas. Terus ke atas. Dan terus ke atas. Hingga menghilang di tengah langit yang gelap.
Kepergian kunang-kunang tersebut, membawa mata mungil gadis itu menatap sesuatu yang lain. Sekarang matanya tidak lagi membulat, namun membelalak takjub. Dia tidak lagi menunjukkan deretan gigi putihnya. Mulutnya terbuka membentuk bulatan.
Langit malam bak lukisan di matanya. Lukisan yang tidak mampu dilukis oleh tangan manusia. Bagaimana bisa di tengah kepekatan malam, di tengah kegelapan yang kelam, cahaya-cahaya kecil menggantung menghiasi atap langit. Atap tak berujung. Entah di mana ujung dari atap langit malam itu. Beberapa bintang mencoba berkedip pada gadis mungil yang tengah menatapnya. Menakjubkan. Namun mata gadis kecil itu hanya tertuju pada satu bintang. Satu bintang yang terlihat paling terang di antara yang lainnya. Satu bintang yang paling menarik perhatiannya.
“apa kau terbangun?”, suara bass seseorang bertanya dari balik punggung gadis mungil itu.
Gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati kakaknya tengah berjongkok menyamakan tingginya. Gadis kecil itu tersenyum manis menyambut kakaknya. Fadel, kakaknya sudah bergerak ke samping adik kecilnya. Ikut menonton bintang-bintang yang menghiasi langit malam.
“yang itu bintang milikku”, suara gadis kecil itu memecah ketenangan di antara mereka. Telunjuknya menunjuk pada salah satu bintang yang sejak tadi diperhatikan olehnya. Bintang yang terlihat paling terang di antara yang lain.
Fadel tersenyum menatap adik kecilnya, “kalau begitu, bintangku yang disebelah bintangmu”, telunjuk Fadel menunjuk pada bintang yang berada tepat di samping bintang yang ditunjuk adiknya.
“bintangku lebih terang”, ujar adiknya lagi dengan senang.
“maukah kuberi tahu nama bintangmu?”, kata Fadel sembari menyampirkan rambut adiknya ke telinga.
Adiknya mengangguk dengan cepat. Wajahnya kelihatan sangat antusias untuk mendengar perkataan Fadel selanjutnya. “apakah bintangku memiliki nama?”, tanyanya pada Fadel dengan riang.
Fadel mengangguk sambil tersenyum geli pada adik kecilnya itu, “tentu saja”
“kalau begitu beritahu aku siapa nama bintangku”, desak adik kecilnya padanya.
“namanya Kejora. Bintang Kejora”

-------------------------------

Khayla mengerjapkan matanya. Dia masih berada di dalam kamar yang sama. Hanya dekorasinya yang berubah. Kamarnya masih sangat gelap karena lampunya dimatikan. Khayla tahu dia hanya bermimpi. Tapi bukan hanya sekedar mimpi. Kejadian itu adalah potongan kenangan masa kecilnya. Tangan Khayla bergerak menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Kemudian menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang. Khayla melirik sekilas pada jam dinding yang tergantung di dinding kamarnya. Pukul empat dini hari. Khayla menatap jendela kamarnya yang tertutup rapat oleh gordin.
Khayla membuka gordin yang menutupi jendela kamarnya. Jendelanya masih tertutup rapat. Tangan Khayla menarik kunci jendela sehingga jendela terbuka lebar. Membiarkan angin malam masuk ke dalam kamarnya. Udara masih terasa sangat sejuk. Namun tidak ada kunang-kunang tersesat. Khayla mendongakkan wajahnya. Menatap pada langit malam yang gelap. Beberapa bintang masih dapat terlihat olehnya. Khayla menghembuskan nafas kecewa. Bintangnya tidak terlihat.
Khayla membiarkan jendela kamarnya tetap terbuka sementara ia duduk di depan meja belajarnya yang berada dekat dengan jendela. Menyalakan laptop kesayangannya. Mencolokkan modem ke laptopnya. Setelah mengklik kata ‘connect’, Khayla membuka akun emailnya.
Dalam kotak inbox dalam emailnya terdapat beberapa email yang baru masuk dan belum dibaca olehnya. Namun hanya ada satu email yang ingin dibaca oleh Khayla. Satu email yang membuat Khayla membuka akun emailnya saat ini.
From     : Kejora_Bintang@yahoo.com
Subjek  : Rindu Purnama
Dengan segera Khayla mengklik email masuk dengan subject ‘Rindu Purnama’ tersebut.

-----------------------------

To        : Kejora_Bintang@yahoo.com
Subject: Rindu Kejora

Apa itu rindu?
Entahlah, aku sendiri merasakan rindu yang tidak kumengerti.
Masihkah Kejora bersembunyi dalam kegelapan langit malam?
Dan malam ini aku begitu merindukan kehadirannya.
Teringat akan kunang-kunang tersesat yang mengantarkanku pada Kejora.
Benarkah kunang-kunang itu tersesat?
Ataukah Kejora yang telah mengirimkan kunang-kunang untuk menunjukkan jalanku padanya?
Apakah saat ini Kejora sedang tersenyum geli karena kerinduanku padanya?

Dapatkah aku menggapaimu, Kejora?

Khayla mengklik ‘send’ dan pesan pun terkirim.
Pada siapakah Khayla berkirim surat elektronik tersebut? Entahlah. Dia sendiri tidak pernah mengetahui siapa yang selama ini berkirim surat elektronik dengannya. Mereka bertemu dengan tidak sengaja pada sebuah chat room. Kemudian berlanjut dengan saling berkirim email. Namun pada awal perbincangan mereka, terdapat sebuah perjanjian bahwa mereka tidak akan pernah saling memberitahu identitas mereka yang sesungguhnya. Ya, memang seperti itulah pertemanan di dunia maya.
Pertemanan? Khayla mentertawakan dirinya sendiri. Hubungan mereka bukan lagi sebagai sebuah pertemanan. Mereka sepasang kekasih di dunia maya. Jika seseorang memiliki kekasih khayalan. Maka Khayla memiliki kekasih dunia maya. Pada kenyataan mereka sama-sama tidaklah nyata. Dan yang lebih menggelikan lagi, Khayla sudah menjalaninya selama hampir satu tahun.
Khayla telah jatuh cinta pada seseorang yang tidak pernah dilihatnya. Seseorang yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya. Siapa namanya, di mana ia tinggal, dan segalanya. Khayla tidak mengetahui apapun mengenai seseorang itu. Satu-satunya yang diketahui Khayla adalah bahwa seseorang yang dicintainya itu pastilah seorang pria. Dan satu-satunya yang Khayla percaya adalah bahwa dirinya telah jatuh cinta pada setiap kata yang ditulis pria itu.
Dan apakah dunia harus penuh dengan sebuah kebetulan? Awal perkenalan Khayla dengan pria itu, Khayla tidak pernah tahu bahwa pria itu mengenakan alamat email dengan nama Kejora_Bintang. Apakah ini hanyalah sebuah kebetulan? Ataukah Khayla yang sudah menariknya karena dia sendiri telah menggunakan nama Purnama?
Adakah keinginan untuk saling bertemu? Entahlah. Khayla sendiri masih belum memikirkan pertemuannya dengan kekasih dunia mayanya itu. Khayla hanya akan membiarkan semua berjalan apa adanya. 




   Part 2

Kamis, 11 Oktober 2012

LELAKI HEBAT




Yap. Ini dia lelaki hebat pertama dalam hidup gue.
Bokap gue sendiri hehe.
Mau tau apa yang hebat dari bokap gue??
Hmmm.  Bagi gue bokap gue emang  yang paling hebat. Kalo gak ada bokap gue, mungkin gue juga nggak ada di dunia ini hihihi.
Biar kata gue paling sering nyusahin bokap gue dan bokap gue sering banget banget banget ngomelin gue tapi gue tau kalo bokap gue sayang banget sama gue =D
Di balik semua omelan bokap buat gue, kadang bokap gue juga bisa menunjukkan sayangnya ke gue. Setiap kali gue jarang pulang ke rumah dan ketika gue pulang ke rumah, lagi tiduran di depan tv, bokap gue ikutan tiduran terus meluk gue sambil ngomong “kenapa kemaren gak pulang?”
Hiks. Hiks. Hiks. Kadang gue bisa terharu juga sama bokap gue. Hehe.
Atau pada satu moment ketika bokap gue jemput gue pulang sekolah di halte busway. Waktu itu gue udah sampe agak malem dan hujan deras banget. Bokap gue ternyata udah nunggu di halte busway. Dan ketika gue turun dari busway, bokap gue tanpa basa-basi nyamperin gue terus makein jas ujan buat gue. Sampe tudung kepalanya pun dipakein sama bokap gue. Dan hari itu gue bener-bener sadar bahwa bokap gue termasuk ke dalam salah satu cowok paling romantis di dunia. =D






Lelaki hebat yang kedua adalah Ahmad Faruqi Amrullah.
Yap. Gue emang banyak banget utang budi sama adek gue yang satu ini. Kalo dibandingin sama bokap gue, dia juga nggak kalah hebat buat gue. Meskipun gue sering banget menjengkelkan dia, dan bikin dia kesel setengah mampus. Dia tetep aja mau nolongin gue setiap kali gue kesusahan. Dan gue harus akui kalau gue udah jadiin dia tukang ojek tanpa bayaran. Dan gue minta maaf banget sama dia soal ini. Hehe. Gue kadang emang suka nggak tau diri kalo minta tolong sama orang lain.
Adek gue yang satu ini emang super duper hebat deh. Menurut gue, siapapun cewe yang ngedapetin dia bakal jadi orang paling beruntung sedunia #halah lebay. Ya, itu sih menurut gue. Bukan karena dia adek gue juga sih. Because,  gue liatnya dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Kalo dilihat dari ibadahnya, adek gue ini cukup oke kok. Taat sama orang tuanya, bisa diacungin jempol. Carenya sama keluarga juga oke banget. Nah, kalo masalah cewe gue gak bisa bilang apa-apa. Biar kata dia paling banyak didemenin cewe-cewe, adek gue ini kayaknya termasuk tipe cowok yang agak kaku sama cewek. Tapi dibalik itu semua justru itu point utama dari dia karena dia nggak kayak cowok-cowok lain yang demennya ngeliatin cewek-cewek seksi dan cantik. Kayaknya adek gue ini lebih suka nyari cewek yang baik-baik daripada nyari cewek yang super duper cantik.
Pokoknya dalam pandangan gue, adek gue termasuk ke dalam salah satu cowok yang bisa jadi idaman setiap cewek. *haduh-haduh bisa-bisa adek gue geer berat ini. 





Lelaki hebat ketiga bernama lengkap Muhammad Imam Darmawansyah. Biar gampang, panggil aja Imam. Adek gue yang ini emang cowok imut-imut bukan amit-amit hihihi. Dia emang masih SMP jadi wajar aja kalo tampangnya tanpa dosa begitu. Hal yang paling lucu keluar dari mulut dia adalah ketika dia SD dan dengan polosnya bilang kalo dia pengen punya istri yang pinter masak. Sumpah gue ketawa ngakak denger adek gue ngomong begitu. Hello. Mimpi basah aja belum, udah mikirin punya istri yang pinter masak.
Di rumah gue, yang suka baca buku itu cuma nyokap gue dan gue. Tapi gue seneng karena ternyata si Imam juga sedikit-sedikit suka membaca. Dia satu-satunya adek gue yang punya hobby sama kayak gue. Yaitu nonton film dan baca novel. Meskipun dengan genre yang sedikit berbeda. Seenggaknya gue bisa sedikit sharing mengenai masalah perfilman ataupun novel dengan adek gue yang satu ini. Kadang-kadang dia juga mau dengerin cerita gue mengenai film dan novel yang gue suka. Setelah sekian lama di rumah gue nggak ada tempat sharing, akhirnya gue punya temen yang bisa diajak bicara mengenai hobby gue. Dia juga satu-satunya orang di rumah gue yang peduli kalo gue lagi nulis cerita novel yang nggak jelas. 






Lelaki hebat berikutnya adalah…. Mr. X
Gue nggak mau nyebutin kalo dia adalah lelaki hebat nomor kesekian karena gue akan menjadikan dia The One Someone dalam hidup gue. My Soulmate.
Kenapa tanpa gambar, karena gue belum menemukannya. Sebut saja dengan Mr.X. Gue yakin cepat atau lambat gue akan dipertemukan dengan Mr. X. Oh I wish bisa bertemu dengan cepat =D.
Di manapun dia berada, gue yakin Tuhan sudah menentukan takdirnya buat gue. Begitu juga sebaliknya, gue emang ditakdirkan Tuhan buat dia. Dan gue akan menunggu sampai Mr. X datang ke dalam hidup gue. Gue harap Mr. X bisa mendengar ataupun membaca tulisan gue ini bahwa gue sedang menunggu kedatangannya. Entah kapan. Entah di mana.

Seseorang yang belum gue temukan. Mr. X. Bahkan sebelum bertemu dengannya, gue udah bersedia menyerahkan hati gue buat dia. I wish.. dia akan menjadi cinta pertama gue. Juga cinta terakhir buat gue. Gue akan menunggu dan mencari sampai waktu mempertemukan.