Selasa, 10 Januari 2012

my girl is my wife (bagian dua)

“selamat pagi non”, sapa supir Awan yang setelah diketahui Holli bukan hanya sebagai supir tapi juga sebagai asisten pribadi Awan namanya adalah pak Halim. Holli memberikan senyuman ramahnya kepada pak Halim dan bergegas pergi untuk membuka gerbang rumah.
Pak Halim menghampiri Holli ketika sedang membuka gerbang, “apa yang sedang non lakukan?”
“aku harus pergi ke sekolah, mungkin bis sekolah sudah meninggalkanku”, jawab Holli cepat dengan tangan terus berusaha untuk membuka gerbang.
“saya akan mengantar nona ke sekolah, tuan Awan sudah menunggu di dalam mobil”, pak Halim mempersilahkan Holli untuk segera menaiki mobil.
Awan sudah ada di dalam mobil ketika Holli membuka pintu mobil, “membuang-buang waktu saja”, gerutu Awan saat Holli masuk ke dalam mobil. Awan sudah masuk ke dalam mobil sejak dua puluh menit yang lalu dan hanya memperhatikan Holli yang sedang sibuk membuka gerbang dari dalam mobil.
Mobil melaju keluar gerbang rumah, “antar aku terlebih dahulu”, ucap Awan kepada pak Halim. Pak Halim hanya mengangguk menjawab Awan, “terimakasih untuk kemarin”, lanjut Awan.
“terimakasih untuk apa?”, jawab pak Halim terlihat bingung.
“aku tidak tahu apa yang sudah kau katakan pada ayah, tapi apapun itu aku berterimakasih”, jawab Awan. Pak Halim tidak menjawab lagi tetapi senyumnya mengembang lebar ketika mendengar perkataan awan.
Mobil memasuki gerbang sebuah sekolah internasional dengan beberapa bendera negara-negara maju dan berkembang berjajar di depan gedung sekolah tersebut. Holli terkejut melihat sekolah yang sangat besar dan bagus itu, dengan siswanya yang terlihat seperti artis-artis papan atas yang cantik dan tampan. Tidak heran kalau Awan memang bersekolah di tempat ini, hal yang tidak mungkin adalah jika Awan bersekolah di sekolah tempat Holli menuntut ilmu sekarang ini. Sekolah milik negara yang walaupun gedungnya berlantai dua dengan cat baru tetap tidak dapat membandingi sekolah tempat Awan belajar.
Ketika mobil ingin berhenti di depan loby sekolah, Awan menahan pak Halim untuk keluar dari mobil, “turunkan aku di tempat parkir”, ujar Awan. Pak Halim mengerutkan dahinya pertanda dia tidak mengerti dengan keinginan Awan.
“aku tidak ingin gadis pengeruk harta ini terlihat oleh teman-temanku”, Awan menjawab pertanyaan yang tidak di tanyakan. Holli merasa terpojok saat Awan mengatakan pernyataan itu.
Awan keluar dari mobil dengan sangat berhati-hati saat membuka pintu, mungkin Awan memang berusaha agar Holli tidak terlihat oleh teman-temannya. Beberapa orang yang melihat Awan keluar dari mobil melambaikan tangan kepada Awan, beberapa gadis berbisik-bisik dengan temannya, dan seorang gadis menghampiri Awan. Merangkul Awan dengan manja. Holli mencibir melihat pemandangan tersebut, “sudah kuduga kalau dia sama seperti pria murahan lainnya yang mengobral ketampanannya”, gerutu Holli.
“tuan Awan tidak seperti yang nona pikirkan”, pak Halim menoleh kepada Holli dan tersenyum. Holli tidak menjawab kembali perkataan pak Halim, bisa saja pak Halim  hanya menyembunyikan keburukan tentang Awan.
Hampir saja Holli telat ketika sampai di sekolah, penjaga sekolah sudah hendak menutup gerbang sebelum Holli menahannya. Pak Halim ingin mengantar Holli sampai masuk ke dalam gerbang sekolah namun Holli melarangnya dan menyuruh pak Halim segera kembali ke rumah sebelum ada yang melihat Holli turun dari sebuah mobil mewah.
“bagaimana akhir pekanmu?menyenangkan?”, bisik Shaila, teman sebangku Holli di tengah pelajaran.
Sebelum bu Sandra melirik Holli, Holli segera menjawab pertanyaan Shaila dengan berbisik pelan, “tidak menyenangkan”
“jangan ada yang berbicara ketika saya menjelaskan”, gertak bu Sandra saat menyadari Holli dan Shaila sedang berbicara. Holli dan Shaila menghentikan pembicaraan mereka dan berlanjut pada saat istirahat. “akhir pekan ini sama saja dengan sebelumnya, tidak ada yang menarik”, Shaila menghela nafas panjang.
Dan menjadi bersemangat ketika Radit masuk ke dalam kelas. Radit menyapa Holli dan Shaila, mereka bertiga memang bersahabat sejak awal menginjakkan kaki di sekolah namun Radit terpisah kelas ketika mereka naik kelas dua. Radit yang selalu menghampiri Holli dan Shaila saat tidak ada lagi yang harus dia lakukan.
“kemarin aku datang ke rumahmu”, sapa Radit pada Holli. Mata Shaila menyipit, menyediki. Holli hampir terbelalak mendengarnya. Untuk apa Radit ke rumahnya bahkan tanpa memberitahunya terlebih dahulu sehari sebelumnya.
Holli mencoba bersikap tenang, “untuk alasan apa kau ke rumahku?”
Radit tidak menjawab pertanyaan Holli namun dia kembali bertanya, “kemana kau?”
“aku…aku pergi bersama ayahku”, ujar Holli agak gugup.
Radit mendekati Holli dan matanya mengintai, “apa yang dilakukan ayahmu padamu?”, selidik Radit. Shaila dan Radit memang sedikit tahu mengenai ayah Holli dan sikapnya pada Holli terlebih lagi istri dari ayahnya yang tidak menyukainya.
Holli tertawa pelan, mencoba untuk mengalihkan perhatian Radit padanya terutama untuk menutupi kesedihannya, “tidak ada yang dilakukannya padaku, dia hanya mengajakku pergi bersama Helena”, hal yang pastinya tidak akan pernah terjadi, pikir Holli.
“sejak kapan dia mengajakmu pergi dengan istrinya?”, celetuk Shaila dengan nada agak kesal.
Holli mengangkat kedua bahunya, mungkin alasan yang diberikannya tidak cukup bagus namun Holli terus berbicara, “kukira ada niat tertentu mereka padaku tapi entahlah aku tidak pernah peduli lagi”
Sepulang sekolah, mobil Nissan milik Awan sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Terparkir agak jauh dari sekolah, Holli sengaja menyuruh pak Halim untuk menjemputnya di tempat yang agak jauh. Holli masuk ke dalam mobil dengan mendapati wajah Awan yang tidak ramah.
“sejak kapan kalian menungguku?”, Holli bertanya dengan sedikit ragu.
Pak Halim tersenyum di balik kemudinya, “tidak terlalu lama non”
“aku sudah cukup telat untuk pergi ke perusahaan”, Awan memotong pembicaraan Holli dengan pak Halim.
Holli menunduk di hadapan Awan, “maaf”, namun Awan tidak menjawab apapun. Suasana yang hening kembali tercipta di dalam mobil, hal yang terlalu sering terjadi. Membuat Holli bosan berada terlalu lama di dalam mobil.
Mereka sampai pada halaman sebuah gedung besar. Gedung sebuah perusahaan milik ayah Rudi. Pak Halim membukakan pintu untuk Awan, Awan merapihkan bajunya dan berjalan memasuki gedung. Sikapnya seperti seseorang yang cukup berwibawa. Setiap orang yang dilewatinya akan menunduk dan menyapanya dengan senyuman hangat.
Pak Halim membukakan pintu mobil untuk Holli. Holli bingung dengan apa yang dilakukan pak Halim, untuk apa dia membukakan pintu mobil untuk Holli. Holli tetap diam di tempat duduknya. Pak Halim tersenyum dan menunduk untuk berbicara dengan Holli, “silahkan keluar non”
“aku?untuk apa?”, tanya Holli dengan bingung.
Pak Halim kembali tersenyum ramah, “tuan Bagas sudah menunggu di dalam”
“oh”, hanya itu yang keluar dari mulut Holli. Holli keluar dari mobil dan memandangi hiruk pikuk di gedung tersebut. Seorang wanita cantik, mendekat kepada Holli dan pak Halim.
Pak Halim menghampiri wanita tersebut, “antarkan nona ini pada tuan Bagas, dia tamu istimewa”, wanita itu mengangguk patuh pada pak Halim. Kemudian wanita itu berjalan mendekati Holli, “selamat siang. Perkenalkan nama saya Dewi, saya akan mengantarkan nona ke ruangan pak Bagas”, sapa wanita itu pada Holli. Pak Halim mengangguk pada Holli, “saya menunggu nona dan tuan Awan”, lalu pak Halim menunduk hormat pada Holli. Wanita itu mempersilahkan Holli untuk masuk ke dalam gedung. Holli mengikuti wanita itu berjalan menuju ruangan ayah Bagas. Dalam perjalanan wanita itu menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan perusahaan tersebut. Dia mengatakan bahwa perusahaan itu adalah rintisan dari ayah Bagas. Beliau yang membangun perusahaan tersebut dari awal. Umur perusahaan itu baru sekitar 30 tahun namun sudah berkembang dengan sangat cepat. Cabangnya sudah terdapat di berbagai negara. Dan juga berbagai hal lainnya yang dijelaskan oleh wanita tersebut.
“kita sudah sampai di ruangan pak Bagas”, ujar wanita itu ketika sampai di depan sebuah ruangan. Wanita itu mengetuk pintu dengan pelan dan membuka pintu, dia hanya memasukkan setengah bagian tubuhnya ke dalam ruangan, wanita itu menunduk sebentar sebelum berbicara, “tamu bapak sudah datang”.
“persilahkan dia untuk masuk”, terdengar suara ayah Bagas dari dalam ruangan. Wanita itu kembali menunduk dan mengeluarkan tubuhnya dari ruangan, membuka pintu dengan lebar untuk Holli. Mempersilahkan Holli untuk memasukinya. Dari pintu sudah terlihat ayah Bagas yang sedang duduk di balik meja kerjanya. Dia tersenyum senang ketika melihat Holli.
Ayah Bagas bangun dari duduknya. Di dalam ruangan tersebut masih terdapat meja dan sofa di sisi ruangan lain selain meja dan kursi kerja ayah Bagas. Ayah Bagas merangkul Holli menuju sofa, “duduklah”, ujarnya. Sepertinya sofa ini memang di sediakan untuk tamu-tamu yang menemui ayah Bagas. Holli duduk diikuti dengan ayah Bagas di hadapannya dan Holli langsung nyaman duduk di atas sofa empuk tersebut.
“bagaimana sekolahmu?”, ayah Bagas memulai pembicaraan.
“baik-baik saja”, jawab Holli.
Ayah Bagas belum berhenti tersenyum, sepertinya suasana hatinya sedang bagus hari ini, “bagaimana kesanmu berada di sini?”
Holli memandang seluruh isi ruangan dan menjawab, “cukup nyaman”
“kalau kau punya waktu luang, sering-seringlah datang ke sini”, Holli mengangguk menjawab tawaran ayah Bagas.
“apa yang diproduksi perusahaan ini?”, tanya Holli tanpa ragu pada ayah Bagas.
“kami memproduksi mobil-mobil sport. Aku pernah bersekolah di sekolah otomotif di jerman dan sangat menyukai mobil-mobil sport sampai akhirnya aku mencoba membuat sebuah mobil sport dan masyarakat menyukainya. Awan juga menyukai mobil-mobil sport, ternyata bakatku menurun padanya”, jelas ayah Bagas.
“apa kau ingin berkeliling?”, tanya ayah Bagas pada Holli. Menurut Holli itu tawaran yang cukup bagus daripada dia harus terus berada di dalam ruang kerja ayah Bagas.
Ayah Bagas menjadi seperti wanita bernama Dewi tadi, guide khusus untuk Holli. Dia menjelaskan dengan sangat jelas mengenai perusahaan miliknya. Mereka sampai di depan  sebuah ruangan yang cukup luas. Ruangan itu dapat terlihat dengan jelas dari luar karena ruangan itu hanya terdiri dari kaca yang dapat tembus pandang. Di dalamnya Awan sedang duduk di kursinya dan sepertinya tengah sibuk memainkan komputernya, “apa yang dilakukannya?”, tanya Holli penasaran.
“Awan yang mendesain mobil-mobil kami, dia pandai dalam hal itu”, ayah Bagas menepuk bahu Holli dan merangkul Holli dengan lebih dekat, seolah dia mengatakan bahwa dia sangat bangga dengan Awan. “sebenarnya Awan tidaklah terlalu dibutuhkan oleh perusahaan, karena kami sudah memiliki pendesain handal, desain milik Awan hanya menjadi cadangan walau terkadang beberapa karyanya pernah dipakai. Aku hanya ingin Awan belajar dan mengerti akan kerja keras agar dia bisa menjadi seorang pria sejati yang bisa bekerja keras untuk keluarganya bukan hanya menghambur-hamburkan uang milik orang lain”
Holli memperhatikan Awan dengan terkesan. Bukan seorang anak laki-laki berusia 17 tahun yang sedang dilihatnya sekarang, “kau harus bisa menjaganya dengan baik”, ujar ayah Bagas. Holli tidak berniat untuk menjawab perkataan ayah Bagas namun Holli tidak enak hati padanya, “baik Om”
“Om?”, ayah Bagas mengerutkan dahinya pendengar panggilan Holli padanya, “panggil aku ayah, sekarang aku adalah ayahmu”, ayah Bagas tertawa pada dirinya sendiri, bahwa dia sangat bangga jika dipanggil ayah, “aku sangat senang kau menjadi menantuku”
“ya ayah”


Hari ini Holli tidak berangkat ke sekolah bersama dengan Awan. Katanya ada urusan penting yang harus segera di selesaikan, jadi Awan berangkat lebih awal dari biasanya. Sampai di sekolah Holli langsung memasuki kelas. Suara gaduh dalam kelas menyembunyikan bisik-bisik para gadis di pojokan ruangan. Ada Rachel di sana, si pembawa kabar burung. Kali ini mereka duduk di tempat yang cukup dekat dengan tempat duduk Holli sehingga Holli masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Shaila ada di tengah-tengah para gadis tersebut. Shaila memang tidak mau ketinggalan berita apapun yang ada di sekolah.
“siapa namanya?”, terdengar seseorang bertanya dengan penuh penasaran pada Rachel.
Rachel menggeleng putus asa, “aku belum tahu”, tapi kemudian matanya kembali bersinar-sinar, “tapi dia dari keluarga kaya, lihat saja dari penampilannya. Bahkan kaus kakinya pun adalah barang mahal yang tidak mungkin kita rela membelikan uang kita hanya untuk kaus kaki yang dipakainya”
“seperti apa wajahnya?”, tanya seseorang lagi.
Rachel tersenyum sendiri seolah sedang membayangkan dia sedang melihat orang yang sedang mereka bicarakan, “tampan luar biasa”, jawab Rachel dengan penuh antusias.
Semua yang sedang mendengarkan Rachel bergumam menanggapi perkataan Rachel dengan tidak kalah antusias. Mereka paling sensitif jika di sebutkan ada pria tampan di sekeliling mereka. Terkadang Holli turut prihatin kepada semua pria tampan yang selalu digandrungi gadis-gadis mengerikan seperti mereka. Karena gadis-gadis seperti mereka tentunya akan terus mengorek-ngorek apapun yang berhubungan dengan pria tersebut.
Pada jam istirahat, Holli berdiam diri di dalam kelas. Duduk di bangkunya sambil membaca beberapa novel yang baru saja dipinjamnya dari Cicit, pengoleksi novel. Saat asyik membaca, sebuah tangan menyodorkan makanan di hadapan Holli. Radit tengah tersenyum saat Holli mendongakkan kepalanya, “kenapa tidak menggunakan waktu istirahat untuk makan siang?makanlah dengan teratur”, ujar Radit mengambil tempat duduk di samping Holli.
“apa yang kau baca?”, Radit melirik buku yang ada di tangan Holli.
“novel”
Suara cempreng Shaila terdengar dari luar kelas sampai dia tiba di dalam kelas, “kenapa kalian hanya duduk di dalam kelas?”, ujarnya menghampiri Holli.
Holli terpaksa menutup bukunya dan menjawab pertanyaan Shaila, “tidak ada peraturan yang melarang kami duduk di dalam kelas bukan?”
Shaila membulatkan bibirnya dan memajukannya sambil mengangkat kedua bahunya. “apa kau tidak tahu kalau ada anak baru di sekolah?”, ujarnya lagi.
“dia sekelas denganku”, jawab Radit.
Shaila hampir menjerit dengan keras ketika Radit berbicara namun Holli menyuruhnya untuk segera menutup mulutnya, “dia manis sekali”, ujar Shaila.
Shaila kembali berteriak ketika matanya terpaku ke arah jendela, “mungkin ini hari keberuntungan ku, bisa melihatnya lagi”, Holli mengikuti arah pandangan Shaila dan mendapatkan seseorang yang sedang berjalan dengan dagunya yang tegak. Bagaimana mungkin dia menjadi anak baru di sekolah ini?atau Holli yang salah melihat?
“namanya Awan”, jelas Radit. Deg. Jantung Holli seperti mau meledak mendengar nama Awan disebut. Tidak mungkin. Untuk apa dia pindah ke sekolah yang sama dengan Holli?Holli tidak begitu yakin kalau Awan pindah sekolah untuk mengikutinya, karena yang Holli tahu adalah Awan sangat membecinya.
“Awan”, dengan mata yang berbinar-binar, Shaila memanggil nama Awan ketika Awan lewat di depan pintu kelas.
Holli seakan memaki-maki Shaila karena memanggil Awan namun Holli hanya merutukinya dengan pelan, “kenapa kau memanggilnya?”, Holli menggeram pada Shaila.
Dengan wajah angkuhnya Awan menoleh kepada Shaila, Radit dan Holli. Dengan sikap yang tidak peduli, seakan dia telah mengatakan ‘siapa kalian?apa aku mengenali kalian?’ Awan memalingkan wajahnya dan kembali berjalan.
“sudah kuduga”, gerutu Holli pada dirinya sendiri.
Shaila menanggapi gerutuan Holli, “tetap saja dia terlihat keren”
“tidak biasanya kau membenci seseorang seperti itu?apalagi kau belum mengenalnya”, selidik Radit.
Holli menanggapi, “kalau begitu kau tidak tahu bahwa aku paling benci dengan orang-orang angkuh dengan kekayaan mereka”, Holli tidak pandai beralih dalam berbicara tapi kali ini dia cukup mahir dalam hal itu.
Menghindari pembicaraan yang mungkin akan berlanjut, Holli keluar dari kelas. Dia berjalan sepanjang koridor sekolah ketika sampai pada tikungan dekat toilet seseorang berdehem dengan sangat keras sehingga Holli menoleh. Di tikungan itu cukup sepi dan Holli mendapati Awan tengah bersandar di dinding dekat pintu toilet pria. Wajah Holli seketika mengerut, ingin melancarkan beberapa serangan kata-kata pada Awan tapi Awan sudah mendahuluinya, “jangan bertingah seolah-olah kau mengenalku”
Mendengar perkataan Awan padanya, Holli semakin geram, “kenyataannya adalah aku memang tidak mengenalmu! Lalu untuk apa kau mengikutiku ke sekolah ini?”, ujar Holli dengan mata yang menyala-nyala.
Awan tertawa pelan mendengar Holli, “aku?mengikutimu?jangan bermimpi di siang hari”, awan bangun dari bersandarnya.
“aku hanya menuruti kata-kata ayahku”, bisiknya pelan di telinga Holli sambil melangkah pergi. Tentu saja, ujar Holli dalam hati.
Holli memandang Awan yang tengah berjalan menjauh, hanya punggung tegapnya yang terlihat. Dua orang gadis mendekat dengan Holli dan berbisik satu sama lain, “lihat, itu anak baru namanya Awan. Tidak pernah ada pria seperti dia di sekolah kita”
Holli berjalan menjauh dari kedua gadis itu, menyebalkan sekali mendengar orang-orang memuji-muji Awan. Apakah mereka tidak tahu kalau Awan sangat menyebalkan?
“Holli”, terdengar suara Radit memanggil. Holli menoleh dan mendapati Radit tengah berlari menghampirinya.
 Radit sampai di hadapan Holli dengan terengah-engah, “aku ingin mengembalikan buku matematikamu tapi ada di dalam kelasku”
“kalau begitu kembalikan sepulang sekolah saja”, ujar Holli.
“bukankan kau ada pelajaran matematika setelah ini?”, Radit mengingatkan Holli. Holli langsung menarik Radit menuju kelasnya, dia tidak ingin dihukum untuk kedua kalinya oleh pak Tom. Dia kejam sekali kalau ada yang tidak membawa buku dalam pelajarannya.
Holli terus menarik Radit tanpa memperhatikan Radit terengah-engah di belakangnya. Sampai di pintu kelas, Holli berhenti melangkah. Dengan wajah lelahnya, Radit menyangkutkan tangannya di bahu Holli dan mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan, “cepat sekali jalanmu”, ucap Radit.
“mesra sekali kalian”, celetuk seorang lelaki. Holli tidak sadar bahwa semua mata di dalam kelas sedang memperhatikan mereka. Di antara mereka, Awan juga tengah memperhatikan namun dia seolah tidak peduli dengan apa yang dilihatnya. Wajahnya masih sama seperti biasa.
Holli segera melepaskan tangan Radit yang ada di bahunya, “cepat ambilkan bukuku”, bisik Holli. Radit menuju meja di mana ada Awan yang sedang duduk di sampingnya. Radit  membuka tasnya dan mengambil sebuah buku. Dia berbicara sebentar dengan Awan, kelihatannya mereka sudah akrab. Kemudian Radit menghampiri Holli untuk memberikan bukunya, “kau duduk dengan anak baru itu?”, selidik Holli dengan suara pelan. Radit mengangguk menjawab pertanyaan Holli.
Bel tanda pelajaran akan segera dimulai berbunyi, Holli berbalik untuk segera memasuki kelasnya tapi Radit menahan tangannya, “sudah beberapa hari ini aku tidak mengantarmu pulang, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang hari ini?”
Tanpa berfikir panjang, Holli mengangguk pada Radit dan dengan terburu-buru Holli berjalan menuju kelasnya. Di tengah perjalanan, Holli baru menyadari anggukannya pada Radit. Kemana dia akan pulang jika Radit yang mengantarnya?
Sepanjang pelajaran, Holli terus memikirkan perjalanan pulangnya dengan Radit. Suara bel sekolah untuk pulang sudah berbunyi, Radit berjalan menuju kelas Holli. Radit berjalan bersampingan dengan Awan, “apa kau membawa mobil?”, tanya Radit pada Awan. Awan hanya mengangguk menjawabnya.
“bagaimana denganmu?”, tanya Awan kemudian.
Radit menunjukkan sebuah kunci pada Awan, “aku selalu membawa motor”
Sampai di depan kelas Holli, Radit berhenti dan menoleh ke dalam kelas. “sedang apa kau?”, selidik Awan.
“mencari Holli, aku akan mengantarnya pulang”, jawab Radit sambil terus mencari-cari keberadaan Holli. Holli melihat Radit dan Awan di depan kelasnya. Dan merutuk sendiri, kenapa harus ada Awan juga di sana.
“Holli”, panggil Radit ketika matanya mendapatkan Holli. Awan menepuk bahu Radit dan pamit untuk pulang. Holli bernafas lega ketika Awan pergi meninggalkan Radit. Holli sangat senang ketika Radit membawa Holli dengan motornya. Holli akan berpegangan dengan erat karena Radit akan mengendarai motornya dengan sangat cepat. Keluar dari gerbang sekolah, Holli melihat Awan di depan pintu mobil sedang mengamati Holli. Setelah beberapa detik, Awan masuk ke dalam mobil dan mobil melaju ke jalan besar.
Radit menghentikan motornya di depan rumah milik ayah Rudi yang pernah digunakannya untuk menyembunyikan Holli dari Helena. Holli benci sekali harus melihat rumah itu lagi, Holli sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menginjakkan kakinya lagi di rumah itu.
“terimakasih sudah mengantarku”, ucap Holli. Radit membuka kaca helmnya dan tersenyum pada Holli, “apa kau mau aku menjemputmu besok?”, tawarnya pada Holli. Holli dengan cepat menggeleng.
“baiklah”, Radit menutup kembali kaca helm dan membawa motornya kembali melaju di jalan besar. Holli bernafas lega ketika Radit pergi meninggalkannya. Sekarang Holli tidak tahu harus pergi kemana, uangnya tidak akan cukup untuk pulang ke rumah Awan. Akhirnya Holli berjalan kaki selama tiga jam sebelum akhirnya sampai di sebuah kompleks pemakaman. Tempat di mana ibunya di makamkan. Sudah lama Holli tidak mengunjungi ibunya. Sebenarnya Holli sangat ingin pergi ke sana sejak beberapa waktu yang lalu namun Holli tidak pernah punya kesempatan. Dengan tubuh yang lelah Holli menelusuri makam-makam untuk menuju makam ibunya.
Awan sudah merasa bosan duduk di dalam ruang kerjanya. Dia memanggil pak Halim untuk mengambil mobilnya dan pergi menuju pemakaman ibunya. Sebenarnya baru seminggu yang lalu Awan datang mengunjungi makam ibunya, tapi dalam keadaannya seperti sekarang Awan ingin sekali menjenguk ibunya dan berbagi cerita dengannya.
“non Holli belum sampai rumah, apakah saya perlu mencarinya?”, pak Halim membuka pembicaraan. Awan sudah menduga, gadis itu pasti akan pulang telat karena mungkin saja dia sedang bersenang-senang dengan Radit.
“biarkan saja, dia akan pulang sendiri kalau sudah waktunya dan aku tidak peduli dengan apa yang dilakukannya”, jawab Awan. Pak Halim mengangguk dan tidak berbicara lagi. Awan menjadi kesal pada Holli, kenapa gadis itu harus terus merepotkannya. Belum lagi karena ayah menyuruh Awan untuk pindah ke sekolah gembel karena gadis menyebalkan itu.
Awan sampai di depan makam ibunya lalu meletakkan seikat bunga yang dibelinya di jalan sebelum sampai di pemakaman. “hai mom”, sapa Awan pada ibunya.
Holli terduduk di samping makam ibunya, “aku rindu pada ibu”
“aku rindu sekali padamu”, lanjut Awan.
Holli membersihkan nisan milik ibunya, “ayah menihkankanku bu, bahkan tanpa persetujuanku”
“aku sudah menikah, itu yang ayah inginkan. Aku selalu menuruti kata ayah, mom”, Awan memandangi makam ibunya dengan sedih.
Holli memainkan tanah makam ibunya seperti anak kecil, “apakah ibu masih bisa menyebutnya sebagai pria yang baik dan bertanggung jawab padamu dan aku?”
“apakah aku bisa bertanggung jawab untuk itu?”, tanya Awan.
“dia pria yang menyebalkan, menganggapku sebagai gadis parasit untuk harta kekayaannya. Dia pria yang sombong dan angkuh. Aku tidak yakin dia bisa membahagiakanku. Dan aku tidak pernah berharap untuk kebahagiaan lagi bu”, cerita Holli pada ibunya. Holli tidak menyadari kalau ada seseorang yang sedang mengamatinya dan mendengarkan ceritanya.
“aku mencintaimu bu”, sapa terakhir Holli untuk ibunya.
“siapa yang kau bilang menyebalkan, sombong dan angkuh itu?”, sebuah suara mengangetkan  Holli dan hampir membuatnya berteriak.  Awan sudah berdiri di belakang Holli dan memperhatikan makam ibu Holli.
Holli bangun dari duduknya dan memandang Awan dengan garang, “sedang apa kau di sini?apa kau mengikutiku dan menguping perkataanku?”
Awan tertawa seperti biasa, “aku menemukanmu terduduk di sini beberapa menit yang lalu”
Awan berbalik dan berjalan meninggalkan Holli. Sedangkan Holli masih terdiam di tempatnya berdiri. Awan menoleh dan mendapati Holli masih berdiam diri, “apakah kau ingin terus berada di sini?cepatlah ayah ingin makan malam bersama di rumah”
Holli mempercepat langkahnya dan mengikuti Awan. Dia tidak ingin berjalan kaki lagi ke rumah Awan, kakinya sudah cukup lelah berjalan kaki selama tiga jam.
“jadi kau ingin agar aku membahagiakanmu?”, Awan kembali berbicara di dalam mobil dengan tertawa pelan. Holli yang kini sudah memejamkan matanya masih bisa mendengar perkataan Awan di tengah tidurnya.
Awan memandang jengkel melihat Holli yang masih tidur dengan lelap di dalam mobil. Awan tidak akan mau menggendongnya masuk ke dalam kamar, jadi Awan menyuruh pak Halim untuk membawa Holli masuk ke dalam. Ayah Bagas sudah menunggu di dalam.
“dari mana kalian?kenapa Holli?”, tanya ayah Bagas pada Awan.
Pak Halim yang sedang menggendong Holli menjawab, “dia hanya lelah”
Holli tertidur pulas tanpa menyadari ayah barunya, ayah Bagas tengah menunggu di samping ranjangnya. Sudah sangat larut malam ketika Holli terbangun dari tidurnya. Matanya masih berusaha membiasakan cahaya yang masuk ketika Holli mendapati ayah Bagas sedang duduk di samping ranjangnya. Tersenyum pada Holli. Holli kaget dan langsung menegakkan tubuhnya.
“ayah”
“kau kelihatan lelah sekali, jadi aku hanya menunggumu terbangun”, jelasnya.
Holli menundukkan wajahnya dan berkata, “maafkan aku sudah merepotkanmu”
Ayah Bagas hanya tertawa mendengar perkataan Holli, “aku juga meminta maaf padamu karena sudah meninggalkanmu untuk makan malam, aku sudah menyuruh pelayan untuk membuatkan makan untukmu”
Seorang pelayan tiba-tiba masuk ke dalam kamar dengan membawakan nasi dan berbagai lauknya dan juga segelas air putih, “kau bisa makan di sini”, ujar ayah Bagas.
“Awan pasti sudah sangat merepotkanmu, aku menyuruhnya untuk pindah ke sekolah yang sama denganmu. Apa kau keberatan?”, tanya ayah Bagas lagi.
Holli menggeleng untuk menghargai ayah Bagas, “tapi Awan pasti tidak akan suka”
“Awan selalu menuruti permintaanku”


to be continue...           back

Tidak ada komentar: